Humanika Psychology Center

HUMANIKA

Psychology Center

Social Anxiety Disorder: Ketika Bertemu Orang Lain Menjadi “Menyeramkan”

Untuk beberapa orang, berkenalan dengan orang lain di lingkungan yang baru bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka seringkali merasa kesulitan untuk memulai percakapan, khawatir akan mempermalukan diri sendiri di hadapan orang tersebut, atau bahkan kesusahan untuk menatap mata lawan bicara mereka. Ketika hal ini terjadi, sebagian besar orang akan menganggap bahwa individu tersebut adalah orang yang pemalu.

Tetapi, ketika perasaan takut akan kondisi sosial itu begitu intens dan tidak rasional sehingga dia kesulitan untuk menghadapi segala macam situasi sosial – bahkan yang terlihat ringan sekalipun – ada kemungkinan bahwa individu tersebut bukan pemalu, tetapi ia memiliki SAD atau Social Anxiety Disorder.

Apa itu SAD?

Social Anxiety Disorder, atau biasa disebut pula sebagai fobia sosial, adalah suatu gangguan kecemasan dimana seseorang merasakan takut yang berlebih akan kondisi sosial, dimana orang lain dapat menilai mereka secara negatif.

Individu dengan SAD takut mereka akan dipermalukan, dihina, atau bahkan ditolak oleh lingkungan sosial mereka, sehingga seringkali mereka menghindari kondisi sosial itu sendiri.

Perbedaan Pemalu dan SAD

SAD berbeda dengan mereka yang pemalu atau memiliki kecemasan tampil di muka umum. Orang yang pemalu masih dapat beradaptasi dengan lingkungannya seiring berjalannya waktu, sementara orang dengan kecemasan tampil di muka umum mengalami tanda-tanda kecemasan hanya pada situasi tertentu.

Sebaliknya, orang dengan SAD cenderung kesulitan untuk menjalani kehidupan sehari-hari karena rasa takut pada situasi sosial dan merasa tidak bisa beradaptasi dengan situasi tersebut.

SAD Menurut DSM-V

Untuk lebih jelasnya, beberapa gejala SAD menurut DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) adalah sebagai berikut:

  • Ketakutan atau kecemasan terkait satu atau lebih situasi sosial di mana ada antisipasi akan dilihat oleh orang lain; seperti terlibat dalam interaksi sosial.
    Ketika orang lain ada yang merasa senang dapat berkumpul dengan teman-teman dari organisasi yang sama, seseorang dengan SAD cenderung takut untuk ikut terlibat dalam pertemuan tersebut. Mereka mengkhawatirkan segala hal, misalnya: apakah baju mereka terlihat aneh, apakah makanan atau minuman yang dipesan wajar, atau apakah orang di seberangnya memperhatikan dia ketika makan.
  • Menghindari situasi sosial, atau menghadirinya dengan perasaan takut atau cemas yang berlebih.
    Saking banyaknya hal yang ditakutkan, seseorang dengan SAD cenderung merasa bahwa mereka lebih baik menghindari situasi sosial itu sendiri. Tetapi jika mereka dipaksa untuk hadir, maka mereka akan merasakan rasa takut atau cemas yang intens selama situasi sosial itu terjadi.
  • Ketakutan atau kecemasan tidak sebanding dengan ancaman secara aktual yang muncul dari situasi sosial dan konteks sosiokultural.
    Realitanya, orang lain tidak selalu memperhatikan apa yang dilakukan orang di sekitarnya. Contohnya, ketika bertemu dengan teman di tempat makan, apakah kamu akan fokus pada cara temanmu makan, atau fokus pada obrolan kalian? Tentunya kita akan fokus pada obrolan kita. Akan tetapi, orang dengan SAD biasanya merasa takut dan cemas akan hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi dalam suatu situasi sosial.
  • Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran terus-menerus, biasanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih.
    Menurut DSM-V, perasaan takut, cemas, atau menghindari situasi sosial yang berlangsung selama setengah tahun atau lebih termasuk dalam gejala SAD. Artinya, kondisi tersebut bukan hal yang hanya muncul sementara, dan cenderung terjadi secara konsisten.

Penanganan SAD oleh Profesional

Individu yang telah diidentifikasi oleh SAD, dapat melakukan treatment dengan profesional menggunakan psikoterapi seperti Cognitive-Behavioral Therapy (CBT), atau diberikan obat seperti SSRI, SNRIs, atau anticonvulsants dan benzodiazepines. Bahkan, treatment yang diberikan dapat menggunakan kombinasi penggunaan obat serta psikoterapi, tergantung dari preferensi individu dengan SAD serta keputusan dari profesional yang menanganinya.

Oh iya, Humans, meskipun kalian merasa dapat relate atau bahkan mengalami beberapa gejala SAD seperti di atas, perlu diingat bahwa identifikasi gangguan psikologi tidak dapat dilakukan sendiri. Diagnosa dapat dilakukan oleh profesional seperti psikiater atau psikolog klinis, seperti di Humanika Psychology Center.

Jadi, jangan cepat menyimpulkan bahwa diri sendiri atau orang lain memiliki SAD; siapa tahu, mereka hanya pemalu!


Sumber:
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders, 5th edition: DSM-5. American Psychiatric Publications.
Becker, D. K. (2018). Social anxiety disorder. The 5-Minute Pediatric Consult, 8th Edition, 860–861. https://doi.org/10.1007/978-0-387-09757-2_29
Jefferies, P., & Ungar, M. (2020). Social anxiety in young people: A prevalence study in seven countries. PLoS ONE, 15(9 September), 1–18. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0239133
Morrison, A. S., & Heimberg, R. G. (2013). Social anxiety and social anxiety disorder. Annual Review of Clinical Psychology, 9(March), 249–274. https://doi.org/10.1146/annurev-clinpsy-050212-185631
Raj, B. A., & Sheehan, D. V. (2001). Social anxiety disorder. Medical Clinics of North America, 85(3), 711–733. https://doi.org/10.1016/S0025-7125(05)70337-0
Rose G. M. , Tadi P. (September 29, 2021). Social Anxiety Disorder. NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555890/
Spence, S. H., & Rapee, R. M. (2016). The etiology of social anxiety disorder: An evidence-based model. Behaviour Research and Therapy, 86, 50–67. https://doi.org/10.1016/j.brat.2016.06.007

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *